Rabu, 22 Januari 2014

mengapa produsen perlu mengetahui perilaku konsumen




TUGAS PAPER

Mata Kuliah : Softskill
“Mengapa Produsen Perlu Mengamati Perilaku Konsumen





Disusun oleh :

SELA AMELIA
Npm : 16211656

3EA06




FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014





KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan  tugas paper  mata  kuliah "PERILAKU KONSUMEN".
Tugas  paper  ini  merupakan salah satu  tugas  mata  kuliah  perilaku  konsumen di program studi  Manajemen  Fakultas  ekonomi  pada  Universitas  Gunadarma. Makalah ini membahas tentang Mengapa Produsen Perlu Mengamati Perilaku Konsumen.

Selanjutnya  penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Mujiyana selaku dosen pembimbing  mata kuliah  perilaku  konsumen  dan  kepada  segenap pihak  yang telah memberikan  bimbingan  serta arahan  selama  penulisan  makalah

Akhirnya penulis menyadari  bahwa banyak terdapat  kekurangan-kekurangan  dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan  kritik dan saran yang  konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan  makalah  ini.




Depok, 16 Januari 2014

Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Semakin hari persaingan dalam dunia bisnis kian ketat, dapat dilihat dari banyak nya para produsen-produsen baru yang bermunculan dan mengeluarkan produk-produk baru. Dapat terlihat dari segi kemunculan berbagai macam usaha. Kepuasan dan perilaku konsumen sangat berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan itu sendiri. Karena apabila ada satu saja pelanggan yang tidak merasa tidak terpuaskan maka ia dapat mempengaruhi calon pelanggan lainnya, Dari uraian tersebut maka ada ketertarikan penulis untuk mengangkat topic tersebut menjadi bahan penulisan  dengan judul ’’Mengapa produsen perlu mengamati perilaku konsumen’’.

Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang produsen , perilaku konsumen, dan apa saja yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen.


1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka pokok
permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah :

1.      Bagaimanakah peran konsumen terhadap produsen?
2.      Apa saja yg mempengaruhi perilaku kosumen?


 
1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah :

1.      Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku konsumen
2.      Untuk mengetahui peran konsumen bagi produsen



1. 4 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan ini :
a.Bagi penulis
Untuk memperluas wawasan pengetahuan  yang selama ini diperoleh di bangku kuliah agar kemudian diharapkan lebih mampu mengembangkan ilmu yang didapat.

b. Bagi produsen
Dapat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang berupa saran - saran kepada pihak produsen dalam menentukan langkah – langkah yang diambil guna memajukan usaha, sehingga berkembang sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

c.Bagi universitas
Sebagai bahan referensi untuk penelitian – penelitian yang akan datang.







BAB II
LANDASAN TEORI

Menurut beberapa ahli perilaku konsumen adalah sebagai berikut :
a.       Schiffman dan   Kanuk
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh sesorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk dan jasa, maupun ide yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya.
   b. Engel, Blackwell dan Miniard
Perilaku konsumen ialah tindakan-tindakan produk jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi dan membuang suatu produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut.
  c. Mowen
Perilaku konsumen merupakan aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi dan membuang barang atau jasa.
  d. Menurut Lamb, Hair dan Mc.Daniel
menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan penggunaan produk.(Rangkuti,2002:91)


BAB III
PEMBAHASAN

 3. 1 Pengertian Produsen

Produsen dalam ekonomi adalah orang yang menghasilkan barang dan jasa untuk dijual atau dipasarkan. Orang yang memakai atau memanfaatkan barang dan jasa hasil produksi untuk memenuhi kebetuhan adalah konsumen.

Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi.

3.2  Produksi

Produksi merupakan salah satu kegiatan yang berhubungan erat dengan kegiatan ekonomi. Melalui proses produksi bisa dihasilkan berbagai macam barang yang dibutuhkan oleh manusia. Tingkat produksi juga dijadikan sebagai patokan penilaian atas tingkat kesejahteraan suatu negara. Jadi tidak heran bila setiap negara berlomba - lomba meningkatkan hasil produksi secara global untuk meningkatkan pendapatan perkapitanya.


 3.3 Pengertian Konsumen
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali.

3.4 Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Perilaku Konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.


3.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN

1.        Faktor social . Seperti kelompok acuan, keluarga, peran, dan status sosial.

2.    Faktor budaya . Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk paling dasar.    
Faktor Personal Meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, juga nilai dan gaya hidup pembeli.
4.  Faktor Psikologi . Empat proses psikologis (motivasi, persepsi, ingatan dan pembelajaran) secara fundamental, mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap rangsangan pemasaran.


BAB IV
KESIMPULAN

            Berdasarkan  pembahasan yang saya jelaskan di atas dapat di simpulkan  bahwa pengamatan terhadap perilaku konsumen sangat penting bagi produsen agar produsen dapat mengetahui selera pasar saat ini.
           
Dan faktor-faktor pada perilaku konsumen sangat mempengaruhi produsen dalam memahami dan mengambil keputusan agar produsen dapat memasarkan produk nya secara lebih baik





Daftar pustaka:



http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2187305-fungsi-produksi/

http://hertadipramayudha.blogspot.com/2011/04/pengertian-produsen.html

http://ekakeropooh.blogspot.com/2012/10/pengertian-konsumen-ciri-ciri-konsumen.html

http://kokokurnia.wordpress.com/2011/04/13/pengertian-produsen-biaya/
http://wikipedia.com





















Selasa, 17 Desember 2013

PEMILIHAN GERAI STEAK MOEN – MOEN

BAB I PENDAHULUAN
1.1.         LatarBelakang
Begitu banyaknya gerai yang menjual makanan siap saji di Indonesia saat ini, maka konsumen pun mempunyai banyak pilihan saat akan menentukan dimana mereka akan memilih gerai dan membeli makanan tersebut sesuai selera dan ketertarikan mereka.
Dengan adanya gerai makanan siap saji kita diberikan kemudahan untuk bisa makan tanpa repot dan lama, tetapi hal ini juga harus diperhatikan karena mungkin saja pemilihan gerai tersebut menjadi kerugian bagi kita juga bagi ekonomi kita.
Ketidaktahuan kita terhadap masing-masing gerai menjadi pemicu kita dihadapkan kepada kerugian, meskipun kerugian itu tidaklah besar. Oleh Karena itu, kita sebagai konsumen harus menjadi konsumen yang cerdas dalam memutuskan sesuatu termasuk memutuskan memilih gerai makanan siap saji yang baik dan berkualitas.
1.2.         RumusanMasalah
      1.2.1.   Apa yang menjadi alasan konsumen memilih gerai STEAK MOEN-MOEN ?
      1.2.2.   Apakah alasan tersebut menjadikan konsumen loyal terhadap pembelian                   STEAK MOEN-MOEN ?
1.3.         Tujuan
Agar kita dapat menentukan dan memilih gerai makanan siap saji dengan baik, juga sebagai pembelajaran menjadi konsumen yang cerdas.
BAB II LANDASAN TEORI
2.1.     Pengertian & Definisi Perilaku Konsumen
            Perilaku Konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.
Definisi Perilaku Konsumen Menurut Para Ahli :
  • Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkandapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
  • Loudon dan Della Bitta (1993) adalah konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yangsemuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
  • Ebert dan Griffin (1995)consumer behavior dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.
  • James F et al ( 1994 ) : perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini.
  • Schiffman dan Kanuk (1994) : perilaku konsumen adalah proses keputusan dan aktivitas fisik individu yang terlibat dalam mengevaluasi, mendapatkan, menggunakan, atau memberikan barang dan jasa yang diperolehnya.
2.2.     Model Perilaku Konsumen
Model perilaku konsumen yang dikemukakan Kotler (1997 : 10)menerangkan bahwa keputusan konsumen dalam pembelian selain dipengaruhi oleh karakteristik konsumen, dapat dipengaruhi oleh rangsangan perusahaan yang mencakup produk, harga, tempat dan promosi. Variabel-variabel diatas saling mempengaruhi proses keputusan pembelian sehingga menghasilkan keputusan pembelian yang didasarkan pada pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu pembelian,jumlah pembelian.
2.3.     SIKAP
2.3.1.  DEFENISI SIKAP
Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) mengemukakan bahwa sikap menunjukan apa yang konsumen sukai dan yang tidak disukai. Defenisi tersebut menggambarkan pandangan kognitif dari psikolog social, dimana sikap dianggap memiliki 3 unsur, yaitu :
  1.  Kognitif (pengetahuan),
  2. Afektif (perasaan),
  3. Konatif (tindakan).
Dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan ungkapan perasaan konsumen tentang suatu objek apakah disukai atau tidak, dan sikap juga bisa menggambarkan kepercayaan konsumen terhadapa berbagai atribut dan manfaat dari objek tersebut.
Sikap konsumen adalah faktor penting yang akan mempengaruhi keputusan konsumen. Mowen dan Minor(1998) menyebutkan bahwa istilah pembentukan sikap  konsumen (costumer attitude formation) sering kali menggambarkan hubungan antara kepercayaan, sikap dan prilaku. Kepercayaan, sikap, dan prilaku juga terkait dengan konsep atribut produk. Atribut produk adalah karakteristik dari suatu produk. Konsumen biasanya memiliki kepercayaan terhadap atribut suatu produk.
Kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsumen mengenai suatu objek, atributnya, dan manfaatnya(Mowen dan Minor, 1998, hal 242). Kepercayaan konsumen menyangkut kepercayaan bahwa suatu produk memiliki berbagai atribut, dan manfaat dari berbagai atribut tersebut. Kepercayaan konsumen terhadap suatu produk, atribut dan manfaat produk menggambarkan persepsi konsumen.
2.3.2.  KARAKTERISTIK SIKAP
Sikap Memiliki Objek
Dalam konteks pemasaran sikap konsumen harus terkait dengan objek, objek tersebut bisa terkait dengan berbagai konsep konsumsi dan pemasaran seperti produk, merek, iklan, harga, kemasan, penggunaan dan media. Misalnya, bagaimana sikap konsumen terhadap steak moen – moen.
Sikap adalah kecenderungan yang dipelajari
Sikap yang berkaitan dengan perilaku membeli dibentuk sebagai hasil dari pengalaman langsung mengenai produk , informasi secara lisan yang diperoleh dari orang lain , atau terpapar oleh iklan di media massa , internet , dan berbagai bentuk pemasaran langsung. Walaupun sikap mungkin dihasilkan dari perilaku  tetapi tidak sama dengan perilaku. Sebaliknya , mereka mencerminkan penilaian yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan terhadap obyek sikap. Sebagai kecenderungan yang dipelajari , sikap mempunyai kualitas memotivasi yaitu mereka dapat mendorong konsumen kearah perilaku tertentu atau menarik konsumen dari perilaku tertentu.
Konsistensi Sikap
Sikap memiliki konsistensi dengan prilaku. Prilaku seorang konsumen merupakan gambaran dari sikapnya. Misalnya kelompok kami gemar membeli steak moen-moen dan itu menandakan kami menyukainya. Inilah konsistensi antara sikap dan prilaku. Namun, factor situasi sering menyebabkan inkonsistensi antara sikap dan prilaku.
Sikap Positif, Negative dan Netral
Seseorang mungkin menyukai moen – moen (sikap positif) atau tidak menyukai moen-moen (sikap negative), atau bahkan tidak memiliki sikap (netral). Sikap yang memiliki dimensi positif, negative, dan netral disebut sebgai karakteristik valance dari sikap.
Intensitas Sikap
Sikap seorang konsumen terhadap suatu merek produk akan bervariasi tingkatannya, ketika konsumen menyatakan derajat tingkat kesukaan terhadap suatu produk, maka ia mengungkapkan intensitas sikapnya. Intensitas sikap disebut sebagai karakteristik extriminity dari sikap
Resistensi Sikap
Resistensi adalah seberapa besar sikap seorang konsumen bisa berbuat. Seorang konsumen menyukai steak namun dia segan untuk membeli steak tersebut karena mahal, tetapi kemudian temannya menyarankan steak moen-moen yang muraah, mungkin sikap si konsumen tersebut akan berubah.
Persistensi Sikap
Adalah karakteristik sikap yang menggambarkan bahwa sikap akan berubah karena berlalunya waktu. Seorang konsumen menyukai makan di waroeng steak namun lama kelamaan di mengalami penurunan pendapatan sehingga tidak mampu makan disanan lagi, akhirnya konsumen tersebut memilih alternative lain seperti steak moen-moen dengan harga yang murah.
Keyakinan Sikap
Adalah kepercayaan konsumen mengenai kebenaran sikap yang dimilikinya. Misalnya, seseorang mungkin tidak setuju jika moen-moen menjadi pengganti makan yang sebenarnya, dan akhirnya dia tetap memilih nasi sebagai makanan utamanya.
2.3.4.  FUNGSI SIKAP
  1. a.    Fungsi Utilitarian ( manfaat )
  2. b.   Fungsi Mempertahankan Ego
  3. c.    Fungsi Ekspresi Nilai
  4. d.   Fungsi pengetahuan
2.3.5. MODEL SIKAP
  1. Komponen kognitif
    • Komponen kognitif dari sikap menggambarkan pengetahuan dan persepsi terhadap suatu obyek sikap.
    • Pengetahuan dan persepsi tsb diperoleh melalui pengalaman langsung dari obyek sikap tsb dan informasi dari berbagai sumber lainnya.
    • Pengetahuan dan persepsi tsb biasanya berbentukkepercayaan (belief) artinya konsumen mempercayai bahwa suatu obyek sikap memiliki berbagai atribut dan perilaku yang spesifik
  1. Komponen Afektif
Afektif menggambarkan perasaan dan emosi seseorang terhadap suatu produk dan merk.
  1. Komponen Konatif
Konatif adalah komponen ketiga dari sikap yang menggambarkan kecenderungan dari seseorang untuk melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan obyek sikap (produk atau merk tertentu)
  1. Model sikap terhadap objek
Mengukur sikap terhadap golongan produk atau jasa atau merk tertentu. Menurut model ini, sikap konsumen terhadap produk atau merek tertentu merupakan fungsi dari adanya atau tidak adanya dan penilaian terhadap keyakinan atau sifat-sifat peroduk tertentu
  1. Model sikap terhadap iklan
Konsumen memutuskan membeli tidak membeli produk/jasa berdasarkan hasil pemahamannya terhadap iklan yang disajikan.
  1. Model tindakan yang beralasan
Menggambarkan pengintergrasian komponen-komponen sikap secara menyeluruh ke dalam struktur yang dimaksudkan untuk menghasilkan penjelasan lebih baik maupun peramalan yang lebih baik mengenai prilaku.
  1. Atribut (Salient belief)         
Atribut adalah karakteristik dari obyek sikap. Salient belief adalah kepercayaan konsumen bahwa produk memiliki berbagai atribut, sering disebut sebagai atribut object beliefs.
  1. Kepercayaan (belief)
Kepercayaan adalah kekuatan bahwa suatu produk memiliki beberapa atribut tertentu. 
  1. Evaluasi Atribut
Evaluasi adalah evaluasi baik atau buruknya suatu atribut yaitu menggambarkan pentingnya suatu atribut bagi konsumen.

BAB III PEMBAHASAN
3.1.     Profil Steak Moen-Moen
Steak Moen-Moen berdiri sejak tahun 2005, dan cabang pertamanya adalah di Kota Solo, Jawa Tengah. Dan Moen-Moen hanya mengandalkan hidangan steak sebagai sajian utama dari resto ini, namun pengunjungnya sangat ramai.
Bagaimana tidak, satu porsi steak dengan cita rasa bintang lima ini hanya dihargai Rp 11.000, maka tak heran di kalangan mahasiswa dan karyawan banyak yang menjadikan Steak Moen-Moen sebagai langganan bersantap, dan memanjakan lidah mereka.
Steak Moen-Moen memang bisa dijangkau dari semua golongan, maka dari sekian resto pada sore hari, karyawan tampak kerepotan untuk melayani pengunjung yang membludak. Kini Cabang Moen-Moen sudah tersebar di Kota Solo, Bandung, Jakarta dan Bogor yang keseluruhannya mencapai 10 outlet. Jam buka moen-moen senin sampai minggu pukul 10.00 – 20.30.
3.2.   Alasan Konsumen Tertarik terhadap Steak Moe-Moen
Steak, makanan khas Eropa ini sudah sangat tidak asing untuk kita dengar bahkan kita rasakan. Jenis makanan padat yang terdiri dari protein, karbohidrat dan vitamin ini menambah para penggemarnya untuk tidak ragu dalam mengonsumsi makanan ini.
Perpaduan antara daging , kentang goreng, sayuran dan saus khas yang menambah cita rasa makanan pilihan ini.
Rasa yang enak, bahan yang berkualitas, terkenal dengan harga yang tidak mahal pula. Walaupun kita memiliki pilihan dalam ragam menu yang berbeda harga. Seperti yang kita kenal steak memiliki beberapa olahan bahan utama, diantaranya tenderloin steak, sirloin steak, chicken steak, dan fish steak. Ini bisa dipilih sesuai dengan selera konsumen yang ingin menikmati dan sesuai dengan berapa kroscek yang harus dikeluarkan.
Sebagai mahasiswa saya terkadang merasa berat untuk mengeluarkan uang jajan demi seporsi steak yang sangat menggiurkan selera. Untung saja, ada satu tempat yang saya temukan untuk menikmati steak dengan harga yang sangat miring dan sesuai dengan kantong mahasiswa.
MOEN-MOEN STEAK, dengan harga berkisaran 10-20 ribu rupiah saja, kita bisa menikmati steak dengan berbagai variasi. Menu yang disajikan pun lumayan lengkap. Spaghetti, milk shake dan varian lain turut melengkapi daftar menu di MOEN-MOEN STEAK ini.
2.4.     Atribut yang Mempengaruhi Ketertarikan terhadap
Steak Moen-Moen
Kelompok kami lebih memilih gerai Steak Moen – Moen dikarenakan berbagai alasan seperti yang disebut dibawah ini :
  • Kematangan daging
Kematangan daging steak moen-moen khusus untuk chiken steak itu cukup matang tidak terlalu kering juga. Sedangkan untuk beef steak dipanggang secara setengah matang tapi bisa juga diminta sesuai selera.
  • Porsi
Porsi yang diberikan cukup banyak atau bisa dikatakan relative untuk sebagian orang, porsi cukup sesuai dengan harga yang ditawarkan oleh produsen steak moen-moen.
  • Komposisi saus dan sayuran      
Untuk saus steaknya produsen steak moen-moen memberikan cita rasa saus barbeque yang banyak disukai dan sesuai selera lidah orang Indonesia. Sedangkan untuk sayuran produsen steak moen-moen memilih wortel, buncis dan kentang sebagai tambahan penyajian bersama steak tersebut.
  • Penyajian tempat
Penyajiannya diletakan diatas hotplate, agar saat disajikan steak masih dalam keadaan hangat juga sebagai tempat pemanggang langsung steak tersebut.
  • Harga
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau sesuai kantong konsumen khususnya anak muda, sehingga kami dapat menikmati steak moen-moen yang lezat dengan harga miring.
  • Pelayanan
Pemesanan steak moen-moen langsung datang ke counter dan sekaligus membayarnya kemudian kami diberikan nomer meja untuk menunggu pesanan. Pelayanannya menurut kami cukup baik, namun terkadang selalu ada keterlambatan datangnya pesanan karena banyaknya pengunjung yang datang.
  • Rasa
Rasa dari steak moen-moen yang diberikan cukup lezat dari segi ayam, beef, saus sampai perpaduan sayurannya. Sehingga banyak pengunjung yang datang kembali untuk menikmati steak moen-moen tersebut.
  • Variasi menu
Menu yang disediakan terdiri dari Chicken Hot Plate, Tenderloin Hot Plate, Mixed Hot Plate, Double Chicken Hot Plat, Double Tenderloin Hot Plate, Double Mix Hot Plate, Cumi Hot Plate, Ikan Hot Plate, Marina Hot Plate, Nasi Putih.
Sedangkan untuk minumannya ada Juice Jambu, Juice Manggo, Juice Strawberry, Juice Melon, Juice Sirsak, Juice Orange, Juice Apel, Juice Tomato, Juice Chocolate, Juice Bozz Coffe.
Dengan banyaknya menu seperti yang dijelaskan diatas ini membuat kami semakin tertari untuk mengunjungi gerai steak moen –moen tersebut.
  • Lokasi
Strategis dan biasanya gerai steak moen-moen dibuka di foodcourt di pusat perbelanjaan. Lokasi tersebut merupakan tempat yang nyaman bagi kami karena selain bisa menikmati steak moen-moen di tempat tersebut tetapi kita juga bisa berbelanja di kawasan tersebut karena merupakan pusat perbelanjaan (mall).
  • Kebersihan
Dari segi kebersihan gerai kami rasa cukup bersih, dengan tempat-tempat yang sesuai dengan penempatannya yang dapat dilihat.
 BAB IV PENUTUPAN
3.1.     Kesimpulan
ketertarikan konsumen pada steak moen-moen tidak lain dari factor harga dan kelezatan yang dapat dinikmati dengan harga terjangkau.
Tidak hanya factor di atas namun factor yang lain juga mempengaruhi ketertarikan konsumen seperti yang telah disebutkan di bab sebelumnya. Dengan banyaknya factor pendukung maka tidak heran jika gerai steak moen – moen dijadikan gerai pilihan untuk makan.
3.2.     Saran
Konsumen yang ingin menikmati steak dengan harga murah alangkah baiknya memilih gerai steak moen-moen karena dari segi cita rasa pun cukup nikmat untuk dinikmati.
Dan untuk memilih gerai yang akan kita kunjungi sebagai tempat  makan kita, tentunya kita harus pintar dalam menentukan pilihan yang dilihat dari berbagai factor dan manfaat yang diberikan gerai makan tersebut. Ini dilakukan agar kita tidak terjadi kerugian
DAFTAR PUSTAKA
 file:///C:/Documents%20and%20Settings/hp/My%20Documents/Downloads/bab1-sikap-1%20(1).pdf
http://bacamoe.com/detail/2012/08/10/4/1656/steak-moen-moen#
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pemasaran/Bab_4.pdf
http://kikimau.wordpress.com/2010/10/28/steak-enak-harga-anak-kostan/
http://library.usu.ac.id/download/fe/manajemen-hamidah.pdf
http://organisasi.org/perilaku-konsumen-ringkasan-rangkuman-resume-mata-kuliah-ekonomi-manajemen
http://www.scribd.com/doc/32519635/MODEL-PERILAKU-PEMBELIAN-KONSUMEN-SERTA-PERILAKU-PEMBELIAN-INDUSTRIAL
http://www.scribd.com/doc/33002909/Resume-Bahan-Manajemen-Pemasaran-1-9
http://islamijum.wordpress.com/2012/06/22/sikap-konsumen/

Senin, 04 November 2013

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT ,karena  dengan limpahan rahmat dan hidayahNya akhirnya  makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik. Makalah ini membahas “ PAKAIAN BAGI KEBUTUHAN MANUSIA SESUAI TINGKATAN “.
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana manusia berpakaian sesuai dengan tingkatan social mereka. Yang dapat dilihat dari bagaimana mereka memilih dan membeli pakaian itu sendiri.
            Kami menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penyusunan makalah ini tidak akan berjalan dengan baik. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan pada masa yang akan datang.
            Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Depok, 2 November 2013
Penulis




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDUHULUAN
1.1.        Latar Belakang ………………………………………………………………..
1.2.        Rumusan Masalah ……………………………………………………………
1.3.        Tujuan Penulisan …………………………………………………………….
BAB II KAJIAN TEORI
2.1.      Teori Kebutuhan Maslow ……………………………………………………
2.2.      Faktor yang Mempengaruhi Konsumen dalam Berpakaian   ……………
BAB III PEMBAHASAN
3.1.      Pentingnya Pakaian Bagi Manusia ……………………………………….
3.2.      Hubungan Pakaian dengan Gaya Hidup …………………………………
3.3.      Pengaruh Harga Terhadap Daya Beli Konsumen ………………………
3.4.      Cara Berpakaian Sesuai Tingkatan Social Manusia …………………….
PENUTUP
Kesimpulan …………………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA



BAB I PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Pakaian adalah salah satu kebutuhan penting juga penunjang penampilan bagi manusia. Pakaian juga mencerminkan pribadi orang yang memakainya.
Begitu banyak gaya hidup yang dianut oleh manusia pada saat ini. Dari tingkat bawah sampai atas manusia memiliki gaya hidup dalam berpakaian yang berbeda-beda seiring dengan kemauan, kemampuan, kebutuhan, status social, daya beli, dll.
Dari hal di atas maka produsen dituntut agar bisa memahami kebutuhan manusia yang memiliki gaya hidup bermacam-macam. Agar produsen bisa membuat dan menyesuaikan produk pakaian yang dikeluarkan agar tepat sasaran maka wajib untuk memperhatikan hal tersebut.
1.2.      Rumusan masalah
1.2.1.   Seberapa penting pakaian bagi manusia ?
1.2.2.   Hubungan pakaian dengan gaya hidup ?
1.2.3.   Pengaruh harga terhadap daya beli konsumen ?
1.2.4.   Gaya berpakaian sesuai tingkat social manusia ?
1.3.      Tujuan penulisan
Agar kita belajar memahami keinginan konsumen yang dapat dilihat dari tingkatan kehidupan konsumen itu sendiri.



BAB II KAJIAN TEORI
2.1.   TEORI KEBUTUHAN MASLOW
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow.
1.  Kebutuhan Fisiologis
Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.
2.  Kebutuhan Keamanan
Sesudah kebetuhan fisiologis terpenuhi kemudian muncul kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur hokum, keteraturan, batas, kebebasan dari rasa takut dan cemas. Misalnya saja rumah untuk berteduh.
3.  Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.
4.  Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.
5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri
Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.
 
2.2.  Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam  Berpakaian

1.    Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku pembelian konsumen dalam factor kebudayaan ini terdapat beberapa komponen antara lain budaya merupakan factor penentuan yang paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang karena kebudayaan menyangkut segala aspek kehidupan manusia.
Menurut kotler kebudayaan adalah determinan paling fundamental dari keinginan dan perilaku konsumen. Sub-sub budaya terdiri dari kebangsaan agama, kelompok ras,dan daerah geografis. Banyak sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang diseasuaikan dengan kebutuhan mereka. Jadi factor kebudayaan yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian sangat berpengahuh terhadap pembelian konsumen. misalnya konsumen di Indonesia lebih memilih membeli batik dibandingkan membeli kain sari dari Negara india karena batik merupakan pakaian kebudayaan asal Indonesia, dan oleh karena itu konsumen di Indonesia akan lebih memilih membeli batik yang berasal dari Negara Indonesia dibandingkan dengan membeli kain sari yang berasal dari india.

2.    Faktor Sosial
Selain factor budaya prilaku seorang konsumen juga dipengaruhi oleh factor-faktor social. Seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status. Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh  langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Factor keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Factor peran dan status meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Jadi factor social yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian misalnya status seorang manajer dengan office boy akan berbeda selera pembelian pakaian mereka dari segi harga,kualitas, dan tempat pembelian pakaian tersebut karena dipengaruhi status social orang tersebut karena  tingkatan pendapatan yang berbeda.

 3.    Faktor Pribadi
Factor pribadi merupakan cara mengumpulkan dan mengelompokkan kekonsistenan reaksi seseorang individu terhadap situasi yang terjadi dalam membeli sesuatu juga dipengaruhi oleh factor kepribadian dari konsumen yang bersangkutan. Jadi factor pribadi yang mempengaruhi pembelian konsumen misalnya dari segi usia seorang konsumen akan memakai pakaian sesuai  dengan usia mereka, misalnya anak-anak akan mengunakan pakaian anak-anak, dari segi jenis kelamin misalnya seorang wanita akan memakai rok atau pakaian feminime seperti dres dan pria akan lebih memilih memakai pakaian yang maskulin seperti t-shirt, dan jaket.

 4.    Faktor psikologi
Pilihan pembelian konsumen oleh 4 faktor psikologi utama yaitu motivasi, presepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan pendirian. Motivasi konsumen memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu, presepsi seseorang konsumen yang termotivasi akan siap untuk bertindak bagaimana seorang konsumen yang termotivasi akan dipengaruhi oleh presepsinya terhadap situasi tertentu. factor psikologi yang mempengaruhi pembelian konsumen dari segi pakaian misalnya seseorang sudah terbiasa membeli pakaian dengan merk zara maka seseorang tersebut jika pergi ke pusat perbelanjaan akan lebih memilih pakaian dengan merk zara dibandingkan merk lainnya karena factor psikologi yang sudah terbiasa, nyaman dan puas dengan merk tersebut.




BAB III PEMBAHASAN
PAKAIAN BAGI MANUSIA
3.1.   Pentingnya Pakaian Bagi manusia
Pakaian adalah salah satu kebutuhan pokok bagi manusia, tanpa pakaian manusia tidak dapat menutupi tubunya dengan aman. Pakaian juga adalah hal penting untuk menunjang penampilan, dengan pakaian manusia dapat memiliki kepercayaan diri dihadapan manusia lainnya.
Pakaian adalah pelindung tubuh yang paling utama dari hal-hal lain seperti perawataan-perawataan kulit dan sebagainya. Manusia dapat merasakan manfaat dari pakaian yaitu  : penutup badan dari sengatan panas matahari, menutupi aurat, penunjang penampilan agar terlihat lebih baik dan percaya diri, dll.

3.2.   Hubungan Pakaian Dengan Gaya Hidup
Seiring majunya perkembangan jaman fasion pun menjadi hal yang penting bagi manusia saat ini. Misalnya fasion dalam hal berpakaian saat ini merupakan hal paling penting bagi sebagian orang.
Banyak model pakaian yang bisa manusia pakai untuk menutupi tubuhnya atau bahkan menjadi penunjang penampilan mereka. Contohnya model pakaian muslim untuk orang muslim yang mengenakan kerudung, baju pesta untuk orang yang senang menghadiri undangan hiburan, jamuan, dll.
Begitu banyak model pakaian di dunia ini sehingga banyak pula gaya yang disenangi manusia dalam berpakaian sesuai dengan gaya hidup mereka.
Tetapi tidak sedikit juga manusia yang memilih pakaian berdasarkan kenyamanan bukan mengutamakan penampilan, contohnya pemakaian kaos oblong agar simple untuk melakukan kegiatan tanpa merasa repot.

3.3.   Pengaruh Harga Pakaian Terhadap Daya Beli Konsumen
Pakaian bermerek dan mempunyai daya jual tinggi mungkin tidak jadi masalah untuk orang yang memiliki uang, tetapi untuk orang yang mempunyai daya beli yang rendah hal tersebut bukanlah hal yang harus diutamakan pada saat akan membeli.
Orang yang memiliki daya beli tinggi biasanya memperhatikan merek dan kualitas pada saat akan mmbeli, berbanding terbalik dengan orang yang daya belinya rendah mereka cenderung mengutamakan harga, kenyamanan contohnya pakaian murah, bagus dilihat dan enak dipakai maka mereka akan langsung tertarik dengan pakaian tersebut dan langsung membelinya sesuai kemampuan daya beli mereka.

3.4.   Gaya Berpakaian Sesuai Tingkatan Sosial Manusia
Bermacam-macam tingkatan social manusia di dunia ini. Dari tingkat bawah sampai atas memiliki gaya berpakaian berbeda pula.
Dilihat dari tingkatan social yang paling rendah contohnya seorang pedagang kaki lima yang penghasilannya hanya untuk kebutuhan pokok saja maka dapat terlihat jelas mereka belum memikirkan penampilan atau cara berpakaian, mereka lebih memikirkan hal lain seperti makan untuk sehari-hari dibanding membeli pakaian.
Kemudian dari tingkat social menengah manusia sudah mulai memperhatikan gaya berpakaiannya, misalnya seorang guru SD senang membeli pakaian yang terlihat sopan dan rapi dengan harga yang lumayan. Mereka juga mulai memperhatikan merek dan kualitas tetapi mereka juga masih membanding-banding harga saat akan membeli dan melihat kemampuan daya belinya sendiri
Lalu dari tingkat social atas yang sudah memiliki segaalanya.dapat kita lihat bahwa mereka sudah bahkan amat sangat memperhatikan gaya berpakaian dan sebagai penunjang penampilan mereka. Mereka beranggapan pakaian mencerminkan bagaimana sosok dan kepribadian seseorang. Misalnya seorang pengusaha sukses dan ternama lebih memilih pakaian yang bermerek, berkualitas dan memiliki daya jual atau harga yang tinggi dengan alasan agar mereka tidak dipandang sebelah mata oleh lawannya.
Harga yang sangat amat mahal untuk sebuah pakaian tidak dipermasalahkan mereka, karena mereka lebih mengutamakan pengakuan diri dari cara mereka menonjolkan diri dari cara berpakaian. Berbeda dengan tingkat menengah dan bawah yang masih memperhatikan harga.




PENUTUP

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pakaian akan dipilih konsumen sesuai dengan yang mereka butuhkan dan mereka sukai sesuai dengan daya beli.
Dan tidak menutup kemungkinan bahwa merek dan kualitas menjadi acuan untuk membeli ketika konsumen memiliki daya beli yang mulai meningkat.
Pembelian pakaian oleh konsumen juga sangat dipengaruhi oleh banyak factor.


DAFTAR PUSTAKA